Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Laporan Gebyar PKM UMY 2016



TUGAS LAPORAN
GEBYAR PKM UMY 2016

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampu : Sri Handari Wahyuningsih, S.E., M.Si.

Disusun Oleh :
EREN DHOHEIRI
(20150410214)
RONNY WIJAYA
(20150410233)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya di perkuliahan kepada masyarakat luas. Program ini merupakan penerus dari Program Karya Alternatif Mahasiswa yang dibentuk pada tahun 1997, yang lalu berganti menjadi Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2001 demi memperluas cakupan dan mengurangi batasan bagi mahasiswa dalam berkreasi. Pada awalnya, PKM memiliki lima sub program, yaitu PKM-Penelitian (PKMP), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Artikel Ilmiah (PKM-I). Finalis dari masing-masing PKM akan dilombakan dalam Pekan Ilmiah Nasional.
Prestasi membanggakan dalam bidang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang merupakan sebuah program dari Direktorat Perguruan Tinggi (DIKTI), telah ditorehkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sejak empat tahun terakhir. Prestasi membanggakan tersebut menjadikan UMY PTS nomor satu penerima dana hibah dikti, dan telah menyumbangkan beberapa medali emas dalam ajang Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) yang telah diselenggarakan beberapa tahun terakhir.
Untuk kembali mempertahankan dan mengembangkan prestasi mahasiswa dalam bidang PKM tersebut, UMY menyelenggarakan acara Gebyar PKM UMY 2016, yang merupakan serangkaian acara yang terdiri dari Gathering antar mahasiswa dan dosen pembimbing, pemaparan proses PKM untuk menuju PIMNAS yang disampaikan oleh Sugito, S.IP, M.Si. selaku Pembina PKM UMY, selain itu juga diselenggarakan gelar karya mahasiswa dan lomba kreativitas poster mahasiwa. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu (19/3) bertempat di Gedung Sportorium Kampus Terpadu UMY tersebut turut dihadiri Dekan, Wakil Dekan, serta Kepala Program Studi dari masing-masing Fakultas dan Program Studi yang ada di UMY.
Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P selaku wakil rektor 1 UMY dalam sambutannya sekaligus membuka acara menyampaikan, tradisi PKM telah digelorakan dengan hebat di UMY, semoga di tahun ini akan kembali membawa kejutan dengan prestasi membanggakan dalam ajang PIMNAS 2016 ini. Beliau mengungkapkan “Untuk mewujudkan generasi emas pada ajang PIMNAS tahun ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh rekan-rekan mahasiswa, pertama keseriusan, diharapkan bagi rekan-rekan mahasiswa untuk serius dalam menjalankan program, kedua kesungguhan, jika ada niat untuk meraih prestasi yang membanggakan harus ditanamkan kesungguhan dalam menjalankannya, ketiga keikhlasan, sudah sepatutnya rasa ikhlas turut digelorakan dalam menjalankan pengimplementasian program kepada masyarakat”
Sementara itu, Hangga Agung Bramantyo selaku Ketua Acara mengungkapkan, program PKM merupakan perwujudan nyata dari tri dharma perguruan tinggi dan juga prestisius bagi masing-masing perguruan tinggi. “PKM saat ini menjadi barometer perguruan tinggi di Indonesia, melalui program PKM ini mahasiswa dapat menyalurkan ide-ide serta kreativitas terbarukan untuk mewujudkan pengabdian program tersebut kepada masyarakat,” ungkapnya.


Pada umumnyaada beberapa karakteristik setiap PKM adalah sebagai berikut:
PKM-P : Merupakan program penelitian yang dimaksudkan untuk mampu menjawabberbagai macam permasalahan yang berkaitan dengan isuterkini, misalnyamengidentifikasi faktor penentumutu produk, pengembangan metodepembelajaran, inventarisasi atau eksplorasi sumber daya, modifikasi produk,identifikasi dan pengujiankhasiat senyawa kimia bahan alam, atau merumuskanteknik pemasaran.PKM-P juga dapat berbentuk upaya pemecahanmasalahhumaniora, misalnya,survei kesehatan anak jalanan, metode pembelajaran aksara daerah di siswasekolah dasar, laju pertumbuhan ekonomi di sentra kerajinan, atau faktorpenyebab tahayul yang mewarnai perilaku masyarakat daerah dan hal-hal yangberkaitan dengan kearifan lokal.
PKM-K : Merupakan program pengembangan ketrampilan mahasiswa dalam berwirausahadan berorientasi pada profit. Komoditas usaha yang dihasilkan dapat berupabarang atau jasa yangselanjutnyamerupakan salah satu modal dasar mahasiswaberwirausaha dan memasuki pasar.Jadi pemeran utama berwirausaha dalam halini adalah mahasiswa, bukan masyarakat, ataupun mitra lainnya.
PKM-M : Merupakan program penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam upaya peningkatan kinerja, membangun keterampilan usaha, penataan dan perbaikan lingkungan, penguatan kelembagaan masyarakat, sosialisasi penggunaan obat secara rasional, pengenalan dan pemahaman aspek hukum adat, upaya penyembuhan buta aksara dan lain - lain bagi masyarakat baik formal maupun non-formal, yang sementara ini dinilai kurang produktif. Disyaratkan dalam Proposal program ini adanya komitmen bekerjasama secara tertulis dari komponen masyarakat yang akan dibantu/menjadi khalayak sasaran.
PKM-T : Merupakan program bantuan teknologi (mutu bahan baku, prototipe, model,peralatan atau proses produksi, pengolahan limbah, sistem jaminan mutu danlain-lain) atau manajemen (pemasaran, pembukuan, status usaha danlain-lain)atau lainnya bagi industri berskala mikro atau kecil (industri rumahan, pedagangkecil atau koperasi),menengahatau bahkan berskala besar,yang menyangkutkepentingan masyarakat luas dan sesuai dengan kebutuhan calon mitra program.Mitra program yang dimaksud dalam hal ini adalah kelompok masyarakat yangdinilaiproduktif, misalnya: pedagang, penjual jasa dan sebagainya.PKM-T mewajibkan mahasiswa bertukar pikiran dengan mitra terlebih dahulu,karena produk PKM-Tmerupakan solusi atas persoalanprioritas mitra. Dengandemikian, di dalam usul program harus dilampirkan Surat Pernyataan KesediaanBekerjasama dari Mitra.
PKM-KC : Merupakan program penciptaan yang didasari atas karsa dan nalar mahasiswa, bersifat konstruktif serta menghasilkan suatu sistem, desain, model/barang atau prototipe dan sejenisnya. Karya cipta tersebut bisa saja belum memberikan nilai kemanfaatan langsung bagi pihak lain.
PKM-AI : Merupakan program penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari suatu kegiatan kelompok dalam bidang pendidikan, penelitian atau pengabdian kepada masyarakat (misalnya studi kasus, praktik lapang, KKN, PKM, magang).
PKM-GT : Merupakan program penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari ide atau gagasan visioner kelompok mahasiswa. Gagasan yang dituliskan dapat mengacu kepada isu aktual yang ada di masyarakat dan memerlukan solusi sistem yang berjangka panjang berdasarkan hasil karya pikir yang cerdas dan implementatif.
Lalu, setelah berkeliling di dalam acara Gebyar PKM UMY 2016, kami akhirnya mendapat kesempatan untuk mewawancarai sebuah kelompok PKM yang kebetulan lolos PIMNAS, yaitu Tim CANGKELUR.
Menurut Juniar Anes Marliasiwi banyaknya limbah cangkang keong dan telur yang tidak dimanfaatkan sehingga menimbulkan limbah di lingkungan masyarakat. Hal ini mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memanfaatkan limbah tersebut menjadi produk pakan tambahan ternak bernutrisi tinggi yang diberi nama “CANGKELUR” (Cangkang Keong dan Cangkang Telur Sebagai Alternatif Pakan Tambahan Ternak bernutrisi Tinggi dan Murah).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan timnya terkait manfaat kandungan dari cangkang keong dan cangkang telur, kedua bahan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk dikonsumsi oleh hewan ternak.
Proses dari pengolahan cangkang keong dan cangkang telur itu sendiri terdiri dari berbagai tahapan, pertama, bahan baku tersebut dicuci bersih, lalu di jemur hingga kering. Lalu setelah bahan-bahan tersebut kering, kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling yang akan menghasilkan serbuk-serbuk olahan cangkang tersebut, yang nantinya serbuk tersebut akan dicampur dengan dedak ataupun pakan ternak lainnya untuk pakan ternak.
Usaha yang dilakukan Anes dan kawan-kawannya merupakan hasil dari pengajuan proposal PKM (Program Kreatifitas Kemahasiswaan) bidang Kewirausahaan yang telah mendapatkan dana hibah dari Dikti (direktorat perguruan tinggi).
Kelompok PKM yang beranggotakan Jitya Ratu, J. Anes Marliasiwi, Fendi Adriansyah, dan Muhammad Kusuma Aji, yang keseluruhan merupakan mahasiswa jurusan Akutansi, tidak hanya berhasil sampai pada pendaan hibah dikti, kelompok PKM tersebut juga berhasil mewakili UMY dalam ajang PIMNAS ke 28 di Universitas Halu Oleo.
Dan jika kami diberi kesempatan untuk mengikuti Program Kreatif Mahasiswa, yang menjadi konsen kami adalah Sampah. Sampah menjadi problem tersendiri bagi kota-kota besar di Indonesia termasuk di Yogyakarta.Di Kota Yogyakarta sendiri, volume sampah pada libur lebaran mencapai 267 ton/hari. Jumlah ini naik 10 persen dari volume sampah di hari biasa.Bisa di bayangkan jika nantinya dunia ini akan penuh dengan limbah satu ini?
Inilah hal yang menjadi keresahan kami tentang permasalahan sampah yang dari tahun ke tahun belum menemui solusi yang tepat. Sehubungan dengan sangat melimpahnya sampah plastik tersebut,sekaligus dengan melakukan kampanye go-green, kami mempunyai sebuah gagasan kewirausahaan untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut untuk didaur ulang atau dicetak ulang menjadi sebuah furniture yang memiliki nilai jual, kegunaan, dan keindahan yang lebih. Seperti contoh meja, kursi, rak buku, tempat tidur dan lainnya. Namun, bukan hanya furniture seperti biasa, akan ada sentuhan minimalis di setiap produk yang nantinya akan di buat, serta memiliki sebuah nilai seni yang mengisi setiap sudutnya.



Melindungi Kebudayaan Adalah Sebagai Salah Satu Bentuk Nasionalisme



TUGAS ESAI

Melindungi Kebudayaan Adalah Sebagai Salah Satu
Bentuk Nasionalisme

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampu : Sri Handari Wahyuningsih, S.E., M.Si.

Disusun Oleh :
RONNY WIJAYA
20150410233

PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015
Melindungi Kebudayaan Adalah Sebagai Salah Satu
Bentuk Nasionalisme

Nasionalisme merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Hal ini senada dengan pandangan Prof. Sartono Kartodirdjo yang mengungkapkan bahwa nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Apabila nasionalisme dipahami seperti dijelaskan di atas maka upaya perlindungan terhadap kebudayaan tradisional sangat relevan dengan semangat nasionalisme. Hal ini disebabkan karena upaya perlindungan tersebut merupakan bentuk dari usaha rakyat Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negaranya sekaligus juga sebagai bukti bahwa rakyat juga mencintai dan bangga terhadap negara dan bangsanya dengan peduli terhadap hasil karya dan produk-produknya. Dengan demikian, tidak terasa berlebihan apabila dikatakan bahwa adanya suatu upaya merevitalisasi perlindungan terhadap kebudayaan tradisional yang akhir-akhir ini sering diklaim oleh bangsa asing merupakan wujud rasa nasionalisme rakyat Indonesia. Oleh karenanya upaya tersebut harus dilakukan secara optimal dengan harapan rasa nasionalisme rakyat Indonesia akan semakin terpupuk dan meningkat, yang dengannya akan menciptakan rasa kepemilikan atas dasar cinta yang mendalam terhadap apa saja yang berbau bangsa dan negara Indonesia tercinta termasuk kebudayaan tradisionalnya.
Dalam perspektif masyarakat China, masalah hari ini adalah peluang di masa datang. Pandangan ini pun hendaknya menjadi pijakan kita dalam menyelesaikan bayangan masalah yang potensial timbul dalam usaha menabur benih nasionalisme konsumen di Indonesia. Generasi digital sebagai garda terdepan dalam usaha ini, perlu mendesain ulang aksi dan wacananya agar bayangan masalah tersebut dapat menjadi peluang untuk menancapkan nasionalisme di tubuh konsumen Indonesia.
Dalam proses ekspansi budaya Indonesia, kita pun memerlukan metode penyebaran yang tepat. Meskipun kita telah melakukan industrialisasi batik, namun permintaan batik di luar negeri tidak akan serta merta melonjak karena pasar harus tertarik lebih dahulu dengan produk batik. Lalu bagaimana kita akan mempromosikan begitu banyak budaya kita kepada pasar luar negeri? Bahkan untuk memperkenalkannya saja sudah sulit. Menurut Turner (1984), budaya pop dan media massa memiliki hubungan simbiotik di mana keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaborasi yang sangat kuat. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengampanyekannya. Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer. Maka kita prioritaskan terlebih dahulu produk-produk budaya yang berkaitan dengan komunikasi massa. Penulis memilih industri film sebagai langkah awal ekspansi budaya secara serius. Film yang penulis maksud meliputi film layar lebar dan sinetron di televisi. Format audio visual memungkinkan film untuk menarik perhatian lebih besar, menjadikannya efektif dalam komunikasi massa. Alur cerita akan memudahkan para menonton untuk menangkap maksud film dengan cara yang menyenangkan, sementara film juga mudah disisipi pesan-pesan sampingan yang tidak begitu disadari seperti iklan dan propaganda.
Apabila produk-produk budaya yang kita pelopori oleh perfilman telah berhasil meraih pasar dan menumbuhkan minat terhadap budaya Indonesia di manca negara, maka tugas berikutnya adalah memelihara dan mengembangkan minat itu dari sebuah infiltrasi menjadi suatu gelombang budaya Indonesia yang deras. Pada tahap ini, produk-produk budaya lainnya seperti musik, literatur, hingga fashion akan berperan penting untuk menarik dan mengikat minat budaya itu lebih juah dan lebih kokoh lagi. Jika kelompok-kelompok fans telah terbentuk di manca negara, maka para selebriti Indonesia akan meraih momentumnya untuk go international. Trend-trend yang berlaku di Indonesia akan turut digandrungi pula di negara-negara yang telah menerima ekspansi budaya kita. Ini bisa diiringi pula dengan masuknya produk-produk lain seperti beragam manufaktur yang membawa nama dan gaya hidup Indonesia. Selangkah demi selangkah, kita menuju hegemoni budaya Indonesia. Selanjutnya jika saatnya tiba, kita boleh tersenyum melihat budaya Indonesia berkibar di mana-mana.
Sama halnya dengan Indonesia dalam konteks negara. Indonesia memiliki potensi meskipun juga terbelit dengan begitu banyak masalah multidimensi. Kita harus optimis dan berani bermimpi, bahwa kita mampu menjadi negara yang besar di kemudian hari. Kita tak harus menjadi orang lain untuk menjadi berguna bagi Indonesia. Salah satu pemikiran yang harus kita punyai adalah  think globally, act locally. Misalnya, seorang Lukman bermimpi menjadikan Jember sebagai Kota Karnaval yang setara dengan Kota Karnaval kelas dunia dengan menjadikan Rio de Jenairo sebagai pembanding. Pelajaran selanjutnya adalah forward looking atau berpikir jauh ke depan dan merencanakan apa yang akan kita lakukan satu atau tiga bahkan beberapa tahun ke depan.
Selain itu, pemerintah perlu melakukan terobosan dengan memberlakukan Hari Budaya Nusantara. Hari di mana tiap-tiap provinsi atau minimal desa memiliki hari budaya masing-masing yang telah disepakati oleh perangkai pemerintah setempat. Setiap daerah wajib menggali budaya daerah serta mentransformasikannya ke dalam sebuah pertunjukkan budaya di daerah tersebut. Penentuan hari budaya juga tidak sembarangan karena harus memiliki nilai-nilai history serta muatan lokal yang berkembang di daerah masing-masing.
Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan diselenggarakannya Hari Budaya Nusantara bagi pemerintah dan warga setempat. Pertama, inventarisasi aset budaya bangsa. Dengan hari tersebut, kita bisa mempatenkan budaya tiap-tiap daerah serta bisa juga membuat database seluruh budaya Indonesia. Jadi, kita mampu membungkam anggapan bangsa asing bahwa kita mengabaikan budaya kita sendiri. Kedua, nation building and character building yang terwujud. Agenda ini mampu membangkitkan wawasan kebangsaan. Dengan mengetahui nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung dalam Hari Budaya Nusantara di tiap-tiap daerah, akan mampu membangkitkan rasa nasionalisme serta mampu membentuk karakter bangsa yang asli. Orang Indonesia yang rajin, ramah, telaten, dan beradab akan menjadi cermin bahwa pembangunan budaya juga ikut andil dalam pembangunan karakter bangsa. Diharapkan dengan ini kita juga bisa memadukan kearifan lokal nilai-nilai global, sehingga adopsi yang kita lakukan mampu membentuk budaya dan karakter yang unik dan khas untuk Indonesia. Ketiga, mengangkat ekonomi masyarakat dan negara. Hari Budaya Nusantara yang berbeda tiap daerah memungkinkan setiap saat dikunjungi wisatawan domestik maupun internasional. Secara otomatis akan menambah devisa negara dan menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakatnya. Tidak boleh dilupakan juga perlunya promosi, pengelolaan serta bantuan pemerintah untuk membantu budaya di tiap-tiap daerah untuk terlaksana dan berkembang karena hal ini bersifat mutualisme.           

Bahasa Indonesia Sebagai Media Komunikasi



BAHASA INDONESIA SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
”Bahasa Indonesia”

Oleh:
Haris Maiza Putra                   C52212099
Lukman Chakim Putra            C52212106
Dwi Apriliawati                      C52212115
Ifa Al Mufida                         C72212137
M. Afif Zainur Rozikin           C92212145
Nisfatul Chabibah                   C92212149
Dosen Pembimbing:
Siti Rumilah, M.Pd. 

JURUSAN MUAMALAH
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012
KATA PENGANTAR 
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua yang berupa ilmu dan amal. Dan berkat Rahmat dan Hidayah-Nya pula, penulis dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia  yang insyaallah tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan tuntas tanpa adanya bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, khususnya kepada :
1.      Ibu Siti Rumilah, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia.
2.      Teman Kelompok 1 selaku Penulis dan pembuat Makalah ini. Dan untuk teman teman yang lain yang tergabung dalam kelas “Muamalah D”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak terdapat banyak kekurangan. Akhirnya, kritik, saran, dan masukan yang membangun sangat penulis butuhkan untuk dijadikan pedoman dalam penulisan ke arah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Surabaya, 14 September 2012.
                                                                                                                                                                Penulis,





DAFTAR ISI
Kata Pengantar….. ………………………………………………………………………………….   i
Daftar isi ………………………………………………………………………………………………    ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang ………………………………………………….   1
1.2   Rumusan Masalah ……………………………………………….   2
1.3   Tujuan Pembelajaran …………………………………………..   2
BAB II PEMBAHASAN
2.1   Pengertian Bahasa ………………………………………………   3
2.2   Macam macam Bahasa ………………………………………….  4
2.3   Bahasa Negara ……………………………………………………   8
2.4   Tujuan Mempelajari Bahasa …………………………………….  9
2.5   Ragam Bahasa …………………………………………………….  10
BAB III KESIMPULAN………………………………………………. 13
Daftar Pustaka ………………………………………………………………..  14
Saran………………………………………………………………………….. .15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bahasa merupakan komponen terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak akan bisa melanjutkan kelangsungan hidup mereka dengan baik dan teratur tanpa adanya bahasa. Mereka tidak bisa berinteraksi dengan mudah dan baik jika mereka tidak menguasai bahasa antara satu sama lain dan dengan tidak adanya kesinambungan tersebut mereka juga tidak dapat menangkap ekspresi kejiwaan maupun keinginan yang diutarakan oleh lawan komunikasinya. Hal ini juga yang menyebabkan adanya sekat dan kurang terkaitnya emosional satu sama lain.
Bisa dikatakan bahwa bahasa sebagai salah satu kebutuhan primer yang mempunyai peran sebagai pengatur sirkulasi kelanjutan hidup. Bahkan, bahasa juga dapat dikategorikan sebagai senjata yang paling ampuh untuk membentengi diri dan negeri dari ancaman-ancaman perpecahan.
Di era globalisasi saat ini penggunaan bahasa sebagai media komunikasi sangatlah terpengaruh oleh laju perkembangan teknologi dan informasi.  Terdapat dua pengaruh pada bahasa setelah terkontaminasi dengan adanya laju teknologi dan informasi yang sangat cepat yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Adapun pengaruh positif yang dapat diperoleh adalah dimana media teknologi informasi sangat memperlancar hubungan komunikasi antar sesama. Mereka dapat menyampaikan segala komunikasi jarak jauh maupun jarak dekat dengan sangat praktis dan efisien.  Di pandang dari sisi lain, kemajuan teknologi dan cepatnya akses informasi juga mempunyai dampak negatif yang sangat mempengaruhi kelangsungan dari bahasa yang telah kita miliki dan kita sepakati untuk menjadi bahasa pemersatu bangsa serta tanah air yaitu bahasa indonesia. Dapat kita ketahui barsama bahwa, sekarang ini banyak bahasa pergaulan yang sangat berbeda dengan kaidah-kaidah kebahasaan. Dengan menurunnya kemampuan berbahasa masyarakat bangsa ini, secara tidak langsung juga akan mengurangi rasa nasionalisme yang tertanam pada diri mereka. Sehingga benteng perahanan yang selama ini terbangun kukuh akan lebih mudah untuk diporak-porandakan oleh musuh.
Maka dari itu, dalam kesempatan kali ini kami akan memaparkan suatu pembahasan yang berjudul ” Bahasa Indonesia Sebagai Media Komunikasi” yang didalamnya akan mencakup tentang pengertian bahasa, macam-macam bahasa serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kebahasaan. Dan untuk pembahasan yang lebih mendetail, akan diulas secara terperinci dalam bab pembahasan.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam suatu karangan ilmiah haruslah disusun secara sistematis dan runtut sesuai dengan ketentuan yang ada. Maka dari itu perlu untuk menyusun suatu rumusan masalah yang menjadi batu pijakan untuk pembahasan pada makalah ini. Adapun rumusan masalah tersebut ialah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan Bahasa Indonesia ?
2.      Jelaskan yang termasuk dalam macam-macam bahasa ?
3.      Apa maksud dari bahasa negara ?
4.      Apa tujuan dari mempelajari bahasa ?
5.      Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa dan yang terkait dengannya ?

1.3  Tujuan Pembelajaran
Adanya suatu diskusi dalam kelas yang kita lakukan sudah barang tentu semuanya mempunyai tujuan masing-masing dan boleh jadi tujuan tersebut berbada ataupun sama. Sedang pembelajaran pada saat ini yaitu dengan judul “ Bahasa Indonesia Sebagai Media Komunikasi” mempunyai beberapa tujuan diantaranya adalah :
1.      Dapat mengetahui makna dari Bahasa Indonesia secara terperinci
2.      Dapat memahami macam-macam bahasa yang ada pada saat ini
3.      Dapat memaparkan maksud dari bahasa negara
4.      Dapat memperoleh pengetahuan tentang tujuan mempelajari bahasa
5.      Dapat membuka cakrawala pengetahuan berkenaan dengan ragam bahasa


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bahasa
Menurut Gorys Keraf (2004 : 1), bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Ketika anggota masyarakat menginginkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, maka orang tersebut akan menggunakan suatu bahasa yang sudah biasa digunakannya untuk menyampaikan sesuatu informasi. Pada umumnya bahasa-bahasa tersebut dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, hal ini dapat dikarenakan adanya perbedaan kultur, lingkungan dan kebiasaan yang mereka miliki. Mungkin asumsi beberapa orang berpendapat bahwa tidak hanya bahasa saja yang dapat dijadikan sebagai media komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa terdapat dua orang atau lebih yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Mereka memakai beberapa alat ataupun media untuk menyampaikan suatu kabar yang memang ingin diinformasikan kepada pihak lain dengan menggunakan lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh sekelompok masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dilihat dari pengertian yang ada dalam kamus tersebut, dapat difahami bahwa bahasa juga dapat berfungsi sebagai lambang bunyi sebagai mana not yang ada pada nada, akan tetapi fungsi atau manfaat yang diberikan sangatlah berbeda antara keduanya. Bunyi yang dihasilkan oleh bahasa dipreoritaskan untuk menyampaikan suatu informasi serta lebih menitik beratkan pada kepadatan isinya bukan pada fungsi estetika yang dihasilkannya.
Bahasa adalah sistem simbol dan tanda. Yang dimaksud dengan sistem simbol adalah hubungan simbol dengan makna yang bersifat konvensional. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem tanda adalah bahwa hubungan tanda dan makna bukan konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri tertentu yang dimiliki benda atau situasi yang dimaksud.
Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang dapat disampaikan melalui lisan, tulisan maupun media lain yang sudah disepakati oleh pihak yang berkomunikasi. Bahasa yang disampaikan melalui lisan dapat disebut dengan bahasa primer sedangkan bahasa yang diutarakan dengan menggunakan selain lisan disebut dengan bahasa sekunder.
Adapun pengertian dari berkomunikasi melalui lisan yaitu berkomunikasi dengan menggunakan suatu simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang memiliki ciri khas tersendiri yang dapat berbada makna ketika diucapkan oleh orang dan kondisi yang berbeda . Suatu simbol bisa terdengar sama di telinga kita tapi memiliki makna yang sangat jauh berbeda. Misalnya kata ’sarang’ dalam Bahasa Korea yang memiliki arti cinta, dalam Bahasa Indonesia artinya adalah tempat tinggal burung atau binatang-binatang lain. Sedang pengertian dari tulisan adalah susunan dari simbol (huruf) yang dirangkai menjadi kata bermakna dan dituliskan. Bahasa lisan lebih ekspresif. Mimik, ekspresi wajah, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukannya.
2.2 Macam Macam Bahasa
            Dalam keberadaannya, Indonesia terkenal sebagai sebuah negara yang mempunyai keberagaman tingkat tinggi. Didalam tubuh bangsa indonesia yang terdiri dari deretan pulau-pulau, saling sambung menyambung dari Sabang sampai Merauke terdapat banyak suku bangsa dan ras berbeda antara satu sama lain. Perbedaan ini dapat disebabkan dari lingkungan hidup dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut. Setelah diamati dan dicermati perbedaan-perbedaan ini juga terjadi  pada ranah kebahasaan yang ada, setiap daerah rata-rata mempunyai bahasa daerahnya masing-masing, satu propinsipun kadang mempunyai lebih dari lima bahasa yang digunakan masyarakatnya untuk berkomunikasi dan hal inilah yang menjadikan indonesia terkenal dengan kemajemukannya.
            Di daerah-daerah yang ada di Indonesia, masyarakat yang ada disana tidak hanya menggunakan satu bahasa saja, melainkan menggunakan beberapa bahasa yang berbeda satu daerah dengan daerah yang lain dan bisa jadi walaupun mereka sama-sama orang yang notabenenya adalah penduduk yang tinggal menetap dalam satu pulau atau provinsi bisa jadi tidak faham dengan penyampaian lawan bicara dari daerah yang berbeda dalam satu pulau atau provinsi tersbut.
            Dalam bab macam-macam bahasa ini, akan disebutkan macam bahasa yang ada dan digunakan oleh masyarakat-masyarakat yang ada di Indonesia ini. Adapun macam bahasa dapat diklasifikasikan menurut daerah dimana bahasa itu digunakan, karena pada umumnya suatu daerah yang telah mempunyai otonom dan kebudayaan sendiri, ia juga akan cenderung mempunyai bahasa dan logat yang berciri khas dan berbeda dari pada yang lain.
            Pengklasifikasian menurut daerah, pengguna bahasa ini terbagi menjadi 7 kelas yaitu : macam bahasa yang digunakan di daerah Sumatra, macam bahasa yang dipergunakan di derah Maluku, macam bahasa yang dipergunakan di daerah  Sulawesi, macam bahasa yang digunakan di daerah Kalimantan, bahasa yang digunakan di daerah Jawa, macam bahasa yang digunakan di daerah Bali dan macam bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Indonesia yang berada di daerah Nusa Tenggara baik barat maupun timur.
2.2.1        Macam bahasa di Sumatra
 Adapun bahasa yang digunakan di daereh Sumatra tidak kurang dari 20 bahasa yang digunakan untuk salimg tukar infirmasi dan untuk berkomunikasi. Adapun bahasa tersebut di antaranya adalah :
1.      Simulu                                           12. Simulur
2.      Sikule                                            13. Riau
3.      Rejang Lebong                              14. Pak-Pak
4.      Orang Laut                                    15. Nias
5.      Minangkabau                                16. Mentawai
6.      Melayu                                          17. Mandailing
7.      Lom                                               18. Lampung
8.      Kubu                                             19. Karo
9.      Gayo                                             20. Enggano
10.  Batak                                             21. Angkola
11.  Aceh                                              22. Alas

2.2.2  Macam bahasa di daerah Maluku
            Di daerah Maluku sendiri terdapat pemilahan macam bahasa yang digunakan sebagai media berkomunikasi yang dikarenakan adanya perbedaan pemakaian bahasa yang ada.
            Di Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur juga menggunakan bahasa yang bermacam-macam, diantara bahasa yang digunakan oleh kebanyakan masyarakat yang bermukim dan berdomisili disana adalah :
1.      Timor                                
2.      Tetun
3.      Anibar
4.      Solor
a.       Rote
b.      Roma
c.       Pantar
d.      Leti
e.       Lain
f.       Kroe
g.      Kaisar
h.      Kai
i.        Kadang    
j.        Helo
k.      Goram            
l.        Geloli
m.    Buru
n.      Belu
o.      Banda
p.      Aru
q.      Ambelan
r.        Alor
            Sedangkan daerah Maluku daerah sekitar suli bacan mempunyai bahasa yang berbeda dengan Maluku daerah ambon timur. Bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat yang berdomisili di daerah ini adalah :
1.      Taliabo
2.      Sula
3.      Bacan

2.2.3        Macam bahasa di daerah Sulawesi
            Beralih pada bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat yang ada wilayah Sulawesi. Sebagaimana pembagian macam bahasa yang ada di wilayah Sumatra, bahasa yang digunakan sebagai media komunikasi juga bervariasi tidak monoton menggunakan satu bahasa saja. Bahasa yang digunakan di wilayah Sulawesi adalah :
1.      Toraja
2.      Napu
3.      Pilpikoro
2.2.4 Macam bahasa di daerah Kalimantan
            Masyarakat yang menetap di daerah yang berada di Pulau Kalimantan menggunakan bahasa yang bermacam-macam. Macam-macam bahasa yang difungsikan sebagai media komunikasi oleh masyarakat Kalimantan adalah :
1.      Klemautan                                     3. Kenya
2.      Kayan                                            4. Iban
2.2.5        Macam bahasa yang digunakan di daerah Jawa
            Sebagaimana yang kita ketahui bersama di Pulau Jawa juga terdapat macam-macam bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat yang tinggal di jawa. Diantara macam bahasa yang digunakan adalah :
1.      Sunda                                3. Jawa
2.      Madura
2.2.6        Macam bahasa yang digunakan didaerah Nusa Tenggara
     Sebagaimana yang ada di daerah Maluku, nusa tenggara juga mempunyai pembagian yang lebih spesifik. Nusa tenggara seperti yang telah diketahui bahwa daerah ini terbagi menjadi dua yaitu Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
            Adapun macam-macam bahasa yang sebagai media komunikasi oleh kebanyakan orang yang hidup dan melakukan interaksi didaerah Nusa Tenggara Barat adalah sebagai berikut :
1.      Sumba
2.      Sasak
            Sedangkan bahasa yang difungsikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur sebagai media komunikasi adalah :
1.      Sasak                     3. Sumbawa
2.      Timor

2.2.7        Macam bahasa yang dipergunakan di daerah Bali
            Pulau Bali yang terkenal sebagai pulau dewata pun juga mempunyai macam bahasa yang biasa digunakan untuk menjalin komunikasi antar sesamanya. Adapun bahasa yang sering digunakan berkomunikasi oleh masyarakat pulau dewata ini adalah bahasa sasak yang juga digunakan oleh orang-orang nusa tenggara. Jika dilakukan pengamatan, maka akan ditarik kesimpulan bahwa letak geografis dan lingkungan juga sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa. Jika daerah tersebut letaknya tidak terlalu jauh, maka perbedaan bahasa mereka juga tidak akan terlalu jauh. 
            Sebagai negara yang mempunyai keberagaman yang sangat banyak hususnya pada ranah bahasa, tidak dapat dipungkiri lagi akan banyak perbedaan yang ada sehingga dapat menyebabkan perpecahan antar daerah, ras ataupun suku yang ada di negara indonesia ini. Untuk mengantisipasi adanya perpecahan yang disebabkan oleh banyaknya perbedaan macam bahasa, sudah barang tentu seluruh masyarakat Indonesia untuk mempelajari dan menguasai bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia.

2.3 Bahasa Negara
            Suatu negara yang sudah merdeka dan tengah menjalankan kepemerintahannya pastilah memerlukan suatu bahasa untuk berkomunikasi dengan pihak dalam maupun pihak luar. Negara juga pasti memiliki bahasa yang wajib digunakan oleh masyarakatnya untuk berkomunikasi. Sehingga walaupun orang yang berkomunikasi tersebut berasal dari daerah atau suku yang berbeda, akan tetapi mereka tetap dapat dipersatukan dalam hal tukar informasi. Dan biasanya bahasa yang digunakan sebagai bahasa pemersatu ini disebut sebagai bahasa negara ataupun bahasa nasional.
            Herman RN(2006:1) Tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya bahasa nasional dan bahasa negara di Indonesia adalah Bahasa Indonesia. Kedua kedudukan tersebut sangatlah penting dan harus terpenuhi fungsinya. Jika ada salah satu yang tidak terpenuhi maka fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu akan pudar dan akan sirna. Hal yang demikian inilah yang sangat menghawatirkan bangsa ini karena akan timbul perpecahan dimana-mana dan benteng pertahanan terkuat Negara Indonesia akan mudah diruntuhkan oleh lawan.
            Walaupun bahasa negara dan bahasa nasional Negara Indonesia sama yaitu bahasa Indonesia, menurut beliau kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan sebagai bahasa nasional memiliki fungsi yang berbeda.dan dalam pembahasan ini akan lebih ditekankan pada pembahasan Bahasa Indonesia yang berkedudukan dan berfungsi sebagai bahasa negara.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
1.      Bahasa resmi kenegaraan
2.      Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
3.      Alat perhubungan di tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelksanaan pembangunan
4.      Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi                  (e. zaenal arifin, 2008:13)
     Sebagaimana fungsi pertama bahasa indonesia sebagai bahasa negara yaitu berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, Bahasa Indonesia sangat berperan aktif dalam event-event penting yang diadakan oleh bangsa ini baik event upacara, perjanjian atau pembaiatan, pidato serta acara-acara lain yang lebih bersifat resmi dan formal.
Dalam pembelajaran yang ada di Indonesia, tidak diperbolehkan bagi para tenaga pendidik maupun peserta didik untuk menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia kecuali pada materi-materi kebahasaan yang memang ada tuntutan untuk memakai bahasa asing atau bahasa daerah. Terdapat manfaat yang dapat di ambil dari ketetapan ini, ketika ada tenaga pengajar maupun peserta didik dari luar daerah dimana mereka melangsungkan proses belajar mengajar mereka akan dapat memahami materi yang disampaikan ketika materi tersebut disanpaikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
   Dalam fungsinya sebagai  alat perhubungan di tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelksanaan pembangunan, Bahasa Indonesia bukan hanya mempunyai fungsi sebagai penghubung antar suku ataupun ras. Akan tetapi, dalam hal ini lebih difokuskan sebagai media komunikasi antara masyarakat dengan pihak pemerintahan. Dengan terciptanya komunikasi yang sehat dan baik, maka pembangunan negeri ini akan mudah terealisasikan sebagaimana yang telah direncanakan.
   Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berpengertian bahwasanya Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat menciptakan jati diri bangsa yang akan membedakan dengan bangsa lain. Budaya Indonesia yang berkembang berdampingan dengan bahasa Indonesia pun akan turut menjadi budaya yang mempunyai keunikan dan cirri khas tersendiri.
2.4 Tujuan Mempelajari Bahasa
   Dalam setiap mempelajari suatu ilmu, setiap manusia pastilah mempunyai suatu tujuan tertentu. Walaupun boleh jadi tujuan ahir yang diinginkan antara satu individu dengan individu yang lainnya akan berbeda. Begitu juga dengan tujuan orang-orng yang berkenan untuk mempelajari bahasa, pastilah mereka juga mempunyai motif tertentu yang melatar belakanginya.
   Walaupun pasti ada tujuan-tujuan yang tidak senada, akan tetapi dalam mempelajari bahasa terdapat tujuan-tujuan yang bersifat umum. Yaitu dengan kita belajar bahasa, kita ingin apa-apa yang kita sampaikan dapat dimengerti dan difahami oleh lawan komunikasi kita. Karena, ketika bahasa kita tidak dapat mengundang pemahaman dari lawan komunikasi maka kita akan menerima respon yang kurang baik selain itu bahasa yang kuang baik dan benar akan dapat menimbulkan kesalahfahaman yang bisa berakibat fatal. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Gorys Keraf (2004 : 8) bahwa seorang yang belum mahir berbahasa akan menemukan kesulitan-kesulitan, karena apa yang dipikirkan atau dimaksudkan tidak akan bisa terlahir sempurna kepada orang lain.
   Selain untuk memahamkan orang lain tujuan mempelajari bahasa adalah untuk dapat menggelar dan mengembangkan potensi-potensi pribadi yang ada pada diri kita. Dengan penguasaan bahasa yang baik dan benar, akan dapat lebih mudah mencari relasi dalam segala hal.
   Ada salah satu tujuan terpenting yang harus kita canangkan ketika kita mempelajari bahasa. Tujuan tersebut ialah kemahiran bahasa. Menurut penuturan Gorys Keraf (2004:1) kemahiran bahasa akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat, bila ia digunakan sebagai alat komunikasi yang baik terhadap sesama masyarakat, bila ia memungkinkan kita untuk mengembangkan kesanggupan kita untuk dapat mempengaruhi orang lain dalam mengembangkan kontrol social yang diingankan.
2.5 Ragam Bahasa
            Ragam bahasa adalah pembagian bahasa yang ditinjau dari bagaimana cara bahasa itu diutarakan oleh orang yang melakukan komunikasi. Lamuddin Finoza (2002:3) memaparkan bahwa ragam bahasa menjadi sangat banyak jumlahnya karena pemilihan corak bahasa yang dipakai seseorang untuk mengomunikasikan sesuatu bergantung kepada tiga hal berikut ini:
1.      Cara berkomunikasi : lisan atau tulisan
2.      Cara pandang penutur terhadap mitra komunikasinya
3.      Topik yang dibicarakan/dituluskan
            Dengan berdasar pada pemaparan yang disampaikan oleh Lamuddin tersebut, dapat diketahui bahwa ada tiga klasifikasi ragam bahasa yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Adapun klasifikasi ragam bahasa itu adalah :
1.      Ragam bahasa berdasarkan cara komunikasi
1)      Ragam lisan
2)      Ragam tulisan
1.      Ragam bahasa berdasarkan cara pandang penutur
1)      Ragam dialek
2)      Ragam idealek
3)      Ragam Sosialek
1.      Ragam bahasa berdasarkan situasi
1)      Ragam terpelajar
2)      Ragam resmi
3)      Ragam tidak resmi
4)      Ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan
1)      Ragam hukum
2)      Ragam bisnis
3)      Ragam sastra
4)      Ragam kedokteran
5)      dsb.(lomuddin finoza, 2002:3)
1.      1.      Ragam bahasa berdasarkan cara berkomunikasi
Dalam pembahasan ini yang akan dibahas terlebih dahulu adalah ragam lisan dan ragam tulisan. Adapun perbedaan antara ragam lisan dan ragam tulisan adalah sebagai berikut:
·         Ragam lisan menghendaki adanya lawan bicara yang siap mendengarkan apa yang diucapkan oleh seseorang, sedangkan ragam tulisan tidak selalu memerlukan lawan bicara.
·         Ragam lisan, unsur-unsur fungsi gramatikal seperti subjek, prediket, objek, dan keterangan tidak selalu dinyatakan dengan kata sering dinyatakan dengan gerak tubuh dan mimik muka. Sedangkan ragam tulisan, fungsi gramatikal harus dinyatakan dengan jelas agar orang membaca suatu tulisan dapat memahami isinya.
·         Ragam lisan sangat terikat pada situasi, kondisi, ruang dan waktu. Suatu ragam lisan baru dapat dimengerti  jika dia berada atau turut terlibat didalam situasi, kondisi, ruang dan waktu yang sama Sedangkan ragam tulisan dapat dimengerti oleh orang lain pada tempat, waktu, kondisi, ruang dan waktu yang berbeda beda.
·         Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi-rendah, panjang-pendeknya  suara. Sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf capital, huruf kecil atau huruf tegak dan huruf miring.(Lomudin Finoza, 1993:4)
1.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
                  Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.
Contoh Ragam Dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’
Contoh Ragam Terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’
Contoh Ragam Resmi adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’
Contoh Ragam Tak Resmi adalah ‘Saya sudah baca buku itu.’
1.      Ragam Bahasa Indonesia sebagai topik pembicaraan
                  Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah:
·         Bahasa Indonesia ragam baku
·         Penggunaan kalimat efektif
·         Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda
·         Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias
·         Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan
·         Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
·         Ragam Hukum : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
·         Ragam Bisnis : Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.
·         Ragam Sastra : Cerita itu menggunakan unsur flashback.
·         Ragam Kedokteran : Anak itu menderita penyakit kuorsior.
·         Ragam Psokologis : Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif.


BAB III
KESIMPULAN
 Dengan demikian perlu dapat ditarik kesimpulan bahwa  Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Sedangkan dari makna Bahasa itu terdapat macam dan ragam bahasa yang telah dijelaskan di atas.
Selain terdapat macam dan ragam, bahasa juga bisa sebagai bahasa negara atau bahasa nasional. Sedangkan bahasa negara adalah suatu bahasa yang memiliki sejenis hubungande facto atau de jure  dengan seseirang dan mungkin melalui perluasan teritori yang mereka duduki. Sebutan ini digunakan bermacam. Sebuah bahasa nasional bisa mewakili identitas nasional suatu bangsa atau negara. Bahasa nasional secara alternatif bisa merupakan sebuah penetapan yang diberikan pada satu bahasa atau lebih yang dituturkan sebagai bahasa pertama di teritori sebuah negara.
Bahasa selain sebagai bahasa negara, bahasa juga memiliki sebuah tujuan dari pembelajaran bahasa. Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula yang belajar dengan berbagai tujuan khusus. Tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
SARAN
Demi tercapainya persatuan dalam keberagaman yang ada di Indonesia perlu adanya kesadaran untuk menanamkan rasa nasionalisme dalam diri sendiri. Sebagai generasi muda dan salah satu cara untuk mencapainya yaitu dengan mempelajari bahasa Indonesia secara detail dan mendalam serta menanamkan rasa kecintaan, kesenangan untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Serta menerapkanya secara baik dan benar, karena dengan menerapkan Bahasa Indonesia secara tepat dan benar maka akan mempererat Negara Indonesia dari berbagai ragam bahasa. Serta Bahasa Indonesia dapat mempersatukan antar sesame bangsa. 
DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2002.Komposisi Bahasa Indonesia.Cetakan ke-8. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Keraf, Gorys. 2004.Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores: Nusa Indah.
Arifin, E. Zaenal dan Tasai S. Amran.2009Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:Akademika Pressindo.
Wibowo, Wahyu.2001.Manajemen Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia, artikel diakses pada tanggal 14 September 2009 darihttp://endonesa.wordpress.com/ajaran-pembelajaran/pembelajaran bahasa-indonesia/)